memelihara anjing
anjing

Belajar kepada Anjing

Tak ada kebenaran sejati dalam dunia ini. Untaian kata penuh dengan filosofis ini patut dijadikan sebagai pedoman dalam menghadapi situasi yang tak menentu dan dunia yang penuh dengan retorika dan manipulatif seperti saat ini. Bahwa sejatinya kebenaran yang mengemuka tak berarti kebenaran mutlak tanpa sisi buram dan celah hitam. Sebaliknya, apa yang kita anggap sebagai kesalahan, tak seutuhnya adalah kesalahan yang mutlak tanpa celah-celah kebenaran dari berbagai aspeknya.

Hukum ini juga berlaku dalam term kebaikan dan keburukan. Apa yang oleh manusia dianggap sebagai sesuatu yang baik, pasti di sisi yang lain mengandung keburukan. Segala hal yang dinilai sebagai keburuhan, pasti memiliki sisi-sisi yang baik. Sebaik-baik manusia ia mempunyai sisi negatif, dan sejahat-jahat manusia ia memiliki hati nurani yang bersih.

Manusia harus mampu mengambil ibrah, pelajaran berharga dari segala apapun yang terhampar di muka bumi ini. Semua makhluk Tuhan dapat dijadikan objek pelajaran bagi siapapun yang mau merenung dan mengkajinya. Dalam pandangan masyarakat secara umum, terutama kaum muslimin, anjing adalah hewan yang bisa dibilang dibenci. Dalam lingkungan sosial, seorang muslim yang memelihara anjing tentu akan mendapat cibiran dari masyarakat dan dicap sebagai muslim yang kurang baik. Hal ini dikarenakan anjing dikategorikan sebagai najis berat (mughalladzah) dalam mazhab Syafi’iyah.

Akan tetapi seorang ulama Nusantara yang kepakarannya diakui dunia Islam, Syekh Nawawi al-Banteni dalam salah satu karya monumentalnya, Kasyifah al-Saja Syarh Safinah al-Naja mengulas tentang hewan yang satu ini dalam beberapa aspek yang berbeda. Pertama, beliau membahas anjing dari aspek kebolehan dan keharaman untuk dibunuh. Hewan muhtaram adalah jenis makhluk hidup yang oleh syariat tidak diperkenankan untuk dibunuh. Artinya, haram dibunuh karena ia dihormati dan dimuliakan secara syar’i. Sementara ghairul muhtaram adalah jenis makhluk hidup yang diperkenankan untuk dibunuh secara syar’i, karena ia tidak dihormati dan tidak dimuliakan.

Baca Juga:  Peduli Muslim Uighur: Pentingnya Tabayyun dan Tatsbbut Demi Solidaritas Islam

Terdapat enam macam makhluk yang tidak dimuliakan syara’. (1) orang yang meninggalkan shalat, tarikusshalah. (2) pelaku zina muhshan, zina yang dilakukan oleh orang yang berada dalam ikatan pernikahan yang sah. (3) murtad, orang yang pindah agama atau keluar dari agama Islam. (4) orang kafir harbiy, orang kafir yang menyerang dan tidak pernah berdamai dengan kaum muslimin. (5) anjing ‘aqur (galak), anjing yang menyerang dan melukai manusia. Sampai pada pembahasan ini, Sekh Nawawi membuat klasifikasi anjing menjadi tiga kategori. Pertama, anjing galak yang termasuk ghairul muhtaram. Semua ulama sepakat bahwa jenis anjing ini tidak dihormati dan tidak dimuliakan oleh syara’, dengan demikian sunnah dibunuh. Kedua, anjing yang memberikan manfaat bagi manusia, seperti anjing yang digunakan untuk berburu, melacak jejak, atau menjaga rumah dan tanaman. Anjing jenis ini disepakati oleh para ulama sebagai hewan yang dihormati dan dimuliakan, sehingga haram dibunuh. Ketiga, anjing yang tidak memberikan manfaat juga tidak menimbulkan mudarat, yakni anjing hiasan yang dipelihara untuk sekedar hobi. Anjing jenis ini menurut Imam Ar-Romli juga termasuk muhtaram, sehingga haram dibunuh. (Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantenni, Kasyifah al-Saja Syarh Safinah al-Naja, Beirut: Dar Ibn Hazm, Cet I, 2011, hal. 144-145).

Kedua, Syekh Nawawi membahas anjing dari aspek status kesuciannya. Sebagian ulama Syafi’iyah mengatakan bahwa semua jenis anjing adalah najis, kecuali anjing milik Ashabul Kahfi. Anjing yang terekam dalam kisah Ashabul Kahfi ini termasuk hewan yang suci dan masuk surga bersama tuannya. (Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantenni, Kasyifah al-Saja Syarh Safinah al-Naja, Beirut: Dar Ibn Hazm, Cet I, 2011, hal. 166).

Ketiga, membahas tentang hal-hal positif yang bisa diambil pelajaran oleh orang yang beriman dari seekor anjing. Terdapat sepuluh sifat terpuji yang bisa diteladani dari seekor anjing. (1) anjing senantiasa dalam kondisi lapar, sifat ini menjadi ciri orang-orang shalih. (2) saat malam hari anjing sedikit tidur banyak bangun, kondisi ini dimiliki oleh orang-orang yang istikamah bangun malam (mutahajjidin). (3) meskipun dalam sehari seribu kali diusir, anjing tetap bertahan di pintu tuannya. Ini merupakan tanda-tanda orang yang tulus (shadiqin). (4) ketika mati anjing tak pernah meninggalkan warisan, inilah tanda-tanda orang yang zuhud (zahidin). (5) selalu menerima meskipun diletakkan di tempat yang rendah, ini tanda-tanda orang yang ridla.

Baca Juga:  Masuk Surga itu Mudah

Selanjutnya, (6) selalu menunggu dan melihat kepada orang yang melihatnya, samapai ia diberi makanan, inilah akhlak orang-orang miskin. (7) jika diusir dan dilempar abu, ia tidak marah dan tidak menyimpan dendam. Hal ini merupakan akhlak orang-orang yang mabuk cinta kepada Sang Ilahi. (8) jika tempatnya dikuasai hewan lain, ia pergi mengalah dan mencari tempat yang lain. Ini merupakan cerminan orang-orang yang terpuji. (9) jika diberi makanan ia selalu menerima dan memakannya, ini adalah tanda-tanda orang yang qana’ah. (10) jika berjalan dari satu tempat ke tempat yang lain ia tak pernah membawa bekal. Ini cerminan orang-orang yang tawakal. (Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantenni, Kasyifah al-Saja Syarh Safinah al-Naja, Beirut: Dar Ibn Hazm, Cet I, 2011, hal. 166).

Alhasil, tidak selamanya apa yang kita anggap buruk, sama sekali tak mengandung hal-hal positif, dan tidak mesti apa yang kita pandang baik, selalu alpa dari keburukan. Hidup adalah keseimbangan antara dua sisi yang berlawanan. []

Wallahu a’lam Bisshawab!

 

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …

fatwa

Memahami Fatwa (8): Kepribadian Mufti Menurut Ahmad Bin Hambal

Seorang mufti menjadi corong dan mediator penyampai aturan-aturan syariat terutama yang terkait dengan hukum Islam. …