sullam al munajah
sullam al munajah

Fikih Nusantara (29): Kitab Sullam al Munajah Karya Sywikh Nawawi al Bantani

Pada bagian terdahulu telah dimuat satu karya Imam Nawawi al Bantani yang memiliki nama lengkap Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin Umar bin Arabi al Jawi al Bantani. Lahir tahun 1230 H/1813 M di Tanara, Serang Banten. Meninggal di Makkah tanggal 25 Syawal tahun 1314 H/1897 M.  Yaitu kitab Nihayatu al Zain Syarah kitab Qurrotu al ‘Ain karya Syaikh Zainuddin al Malibari. Satu karya di bidang fikih yang sangat fenomenal dan pantas disebut maha karya.

Di samping menulis kitab syarah yang tebal, Imam Nawawi al Bantani juga telaten nulis kitab tipis yang pembahasannya hanya fokus pada masalah tertentu. Seperti kitab Sullam al Munajah yang akan diperkenalkan kali ini yang tebalnya hanya 28 halaman. Kitab ringkas yang sangat cocok untuk pemula.

Akan tetapi, meskipun cukup ringkas namun penjelasannya cukup luas. Kitab Safinatu al Shalah diuraikan begitu sempurna sehingga memberikan pemahaman yang luas bagi pembaca dalam memahami shalat dan seluk-beluknya. Dengan kata lain, kitab ini ringan namun berbobot.

Kitab Sullam al Munajah merupakan kitab fikih yang ditulis oleh Imam Nawawi al Bantani khusus membahas shalat. Kitab ini sebagai syarah dari kitab Safinatu al Shalah karya Sayyid Abdullah bin Umar bin Yahya al Hadhrami.

Meskipun pada intinya kitab ini membahas shalat saja, namun di awal Imam Nawawi al Bantani memulai dengan pembahasan akidah. Tidak lain, tujuannya supaya umat Islam terutama kalangan awam memiliki keimanan kokoh lebih dahulu sebelum melaksanakan perintah wajib. Karena bagaimanapun, kesempurnaan semua ibadah ditunjang oleh keimanan yang mantap dalam dada.

Satu hal yang membuat kitab ini istimewa adalah muatannya yang mencerminkan kearifan lokal Nusantara. Satu contohnya, ketika membahas macam-macam najis beliau menampilkan status hukum sarang burung dan anak lebah. Dua hal yang memang mudah dijumpai di Nusantara.

Baca Juga:  Sejarah Perkembangan Fikih: Ikhtiar Ulama Mendialogkan Islam dengan Realitas

Pada bagian ini dijelaskan bahwa sebagian sarang burung yang terbuat dari busa air laut yang dikumpulkan dalam mulut burung hukumnya suci. Alasannya, karena keluar dari mulut burung bukan dari temboloknya. Dalam konteks saat ini, hukum ini bisa diterapkan dalam menghukumi sarang burung walet.

Sementara untuk anak lebah beliau menjelaskan, anak lebah yang ada di sarang atau tempat madu pada mulanya berupa telur lebah, lalu berubah menjadi anak lebah yang bernyawa, kemudian menjadi kepompong, lalu menjadi lebah yang bisa terbang. Dengan demikian, anak lebah pada fase pertama hukumnya halal, sementara anak lebah pada fase-fase selanjutnya adalah haram untuk dikonsumsi.

Inilah satu karya Imam Nawawi al Bantani, salah seorang ulama Nusantara yang terkenal ‘allamah, multi disiplin dalam berbagai fan ilmu agama. Banyak karya tulis yang beliau wariskan kepada umat Islam Nusantara. Dengan demikian, semestinya semua karya ulama-ulama Nusantara diabadikan sebagai bahan ajar atau referensi untuk memahami ilmu agama.

Karya yang berjibun yang telah diwariskan tersebut telah cukup untuk bahan referensi bagi kita semua. Kalaupun lebih ingin mendalami lagi, hendaklah membuka karya-karya ulama yang serumpun dengan mereka, yang sanad keilmuannya sama.

Tidak perlu membaca karya-karya yang banyak beredar di internet yang kebanyakan menyalahkan tradisi-tradisi ulama-ulama Nusantara. Padahal, bila ditakar, keilmuan mereka tidaklah sebanding dengan ulama-ulama semisal Imam Nawawi al Bantani.

Bagikan Artikel ini:

About Ahmad Sada'i

Avatar of Ahmad Sada'i

Check Also

tafsir 10 dzulhijjah

Tafsir Surat Al Fajr Ayat 1-2 : Kemuliaan 10 Hari Pertama Bulan Dzulhijjah

Seperti bulan Hijriah yang lain, bulan Dzulhijjah memiliki keutamaan sendiri. Satu keistimewaan bulan kedua belas …

dhau misbah

Fikih Nusantara (28): Kitab Dhau’ Al Mishbah Karya Kiai Hasyim Asy’ari

Tidak banyak yang tahu terhadap risalah ini. Sebuah catatan singkat tentang fikih nikah yang ditulis …