cicak
cicak

Para Pemburu Cicak, Pahami Kembali Perintah Rasulullah Untuk Membunuh Cicak

Anak kecil mengenal cicak sudah cukup lama. Tentu dengan lagu yang cukup populer “cicak di dinding”. Sepintas tentu cicak itu tidak menakutkan apalagi membahayakan. Karena anak kecil pun menyanyikan dengan riang dan mengenal cicak bukan sebagai hewan yang menakutkan.

Namun, dalam Islam ternyata ditemukan hadist anjuran membunuh cicak. Bahkan pahala yang tidak kecil buat mereka yang membunuhnya. Jika semua umat Islam memburu semua cicak ini, mungkin tidak akan ada lagi imajinasi buat lagu cicak di dinding karena semuanya mengejar pahala.

Tapi, apakah itu semua cicak? Termasuk cicak yang dinyanyikan oleh anak-anak itu? Jangan-jangan ada bedanya antara cicak yang di dinding itu dengan cicak di Arab? Atau semua berarti yang diterjemahkan cicak harus diburu?

Ceramah Ustad Adi Hidayat baru-baru ini yang menyatakan ada perintah dari Nabi untuk membunuh cicak menjadi perbincangan publik khususnya di media sosial. Dalam ceramahnya tersebut ia menyatakan, berdasar hadis Nabi riwayat  Sa’ad bin Abi Waqqash Nabi memerintahkan untuk membunuh cicak. Lebih jauh ia berkata, “Membunuh cicak itu seperti membunuh nyamuk untuk menunjukkan adanya kotoran-kotoran di situ yang harus kita jauhkan. Emang diciptakannya untuk menunjukkan itu. Nah, harus dibunuh dia”, katanya dalam ceramah tersebut.

Benarkah demikian? Yang perlu dipahami, Nabi itu sangat penyayang terhadap binatang. Bahkan terhadap anjing, hewan yangyang kategori najis berat (mughalladzoh) dalam pandangan Madzhab Syafiiyah. Saat terjadi Fathu Makkah, beliau memerintahkan para tentara supaya tidak mengganggunya, apalagi membunuhnya.

Memang ada lima jenis hewan perusak  yang diperintahkan untuk dibunuh karena mafsadat yang ditimbulkannya. Tapi bila tidak membahayakan dan tidak membawa mafsadat tetap tidak boleh. Seperti anjing yang tidak galak dan tidak membahayakan manusia.

Baca Juga:  Inilah Penjelasan Mengapa Ulama Berbeda Pendapat Mengenai Jumlah Ayat Al-Qur’an

Tentu heran bila mendengar ada perintah Nabi yang menyuruh untuk membunuh cicak, bahkan menjanjikan pahala. Kalaupun benar ada hadisnya tentu harus ditelaah lebih dalam lagi pemahaman terhadap konteks hadis tersebut dan jenis cicak yang dimaksudkan apakah sama jenisnya dengan cicak yang ada di Indonesia.

Nabi bersabda, “Barang siapa yang membunuh cicak sekali pukul, maka dituliskan baginya seratus pahala kebaikan. Barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala pertama. Barang siapa memukulnya lagi, maka baginya pahala yang kurang dari pahala kedua”. (HR. Muslim).

Pada hadis ini, wazaghan yang jamaknya auzagh artinya cicak. Seperti dijelaskan al Qardhawi dalam Kaifa Nata’ammal ma’a Sunnah sebagai Al Ta’kid min Madlulati Alfadzil Hadis. Apakah jenisnya sama dengan yang ada di rumah-rumah kita?

Imam Nawawi dalam Syarhu Muslimnya menjelaskan, bahwa cicak dan tokek belang adalah satu jenis. Tokek belang adalah jenis cicak yang besar. Para pakar bahasa semua sepakat bahwa cicak adalah jenis hewan yang menyebabkan penyakit.

Oleh karena itu, bisa dipahami kalau hewan yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah jenis saamul abrash, yakni cicak yang mendatangkan penyakit. Lebih tepatnya, al Hasyaratu al Mu’dzi (hewan yang dapat menyakiti). Jenis hewan ini diperintahkan oleh Nabi untuk dibunuh karena termasuk jenis hewan yang menyebabkan penyakit.

Sampai disini telah jelas, cicak yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah bukan cicak seperti yang ada di rumah-rumah kita di Indonesia. Salah kalau mempersepsikan bahwa hadis tersebut menunjuk semua jenis cicak. Asal namanya cicak boleh dibunuh. Bukan demikian.

Karena itu, penting untuk menelaah sebuah hadis untuk mengetahui makna yang sesungguhnya. Tidak asal berdasar dugaan semata melalui pemahaman leksikalnya (makna harfiah teks) saja. Untuk memahami secara sempurna sebuah hadis, ulama telah membantu kita semua dengan menulis karya-karya berupa kitab Syarah Hadis (kitab penjelas hadis). Salah satunya adalah karya Imam Nawawi, Al Minhaj Syarhi Sahih Muslim.

Bagikan Artikel
Best Automated Bot Traffic

About Faizatul Ummah

Faizatul Ummah
Alumni Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo