Kalāmullāh dalam surah al-Baqarah ayat 30 yang berbunyi:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. [Q.S. al-Baqarah: 30]
Memahami ayat diatas harus dengan pikiran yang sehat serta dengan kecerdasan diatas rata-rata. Kenapa? , karena jika hanya dipahami secara tekstual, ayat ini akan ditelan mentah-mentah oleh orang yang tidak paham apa makna “Khilafah” dengan hanya menuruti nafsu sebagian kelompok saja.
Ada dua pemahaman yang bisa kita petik. Yang pertama penyebutan “Khalifah” dan yang kedua penyebutan “Khilafah”. Namun penulis akan mencoba menyederhanakan kepada anda bahwa Khalifah adalah subyek atau pelaku. Sedangkan Khilafah adalah suatu sistem.
Pada ayat sebelumnya, Allah mengkontruksi bumi dan langit, kemudian Dia menyiapkan makhluk sebagai penghuni bumi. Para mufassir Alquran menakwilkan surah al-Baqarah ayat ke-30 ini dengan pemahaman masing-masing. Ibnu Katsir memaknai ayat diatas masih ada hubungannya dengan surah al-An’ām ayat 165:
وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ
“Dan Dialah yang menjadikan kalian penguasa-penguasa di bumi” [Q.S. al-An’ām: 165]
Surah an-Naml ayat 62:
وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ
“dan yang menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi.” [Q.S. an-Naml: 62]
Dan surah al-A’rāf ayat 169:
فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ
“Maka datanglah sesudah mereka generasi lain” [Q.S. al-A’rāf: 169]
Mungkin di pikiran anda, yang dimaksud adalah Allah akan menciptakan khalifah. Dan khalifah itu adalah Nabi Adam a.s. Tetapi, mayoritas mufassir Alquran dalam maksud khalifah itu bukanlah Nabi Adam a.s. saja, namun ada kategori yang Allah pilih sendiri dan hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.
Dalam tafsir al-Ibrīz, lafadz خَلِيفَةً dimaknai sebagai “pengganti”. Ketika itu, pasca wafatnya Rasulullah Saw. umat Islam butuh sosok pemimpin, terpilihlah Abu Bakar aṣ-Ṣiddīq sebagai pengganti. Namun, yang menjadi persoalan adalah asumsi malaikat bahwa nanti khalifah yang diciptakan Allah akan merusak bumi dan saling menumpahkan darah.
Mengutip tulisan Dr. KH. Ahsin Sakho Muhammad, Allah dengan sifat rububiyah-Nya telah menetapkan bahwa manusia sebagai makhluk yang paling tepat menjadi khalifah di bumi. Dalam diri manusia mempunyai sisi positif dan sisi negatif. Allah memandang dari sisi positif, sedangkan malaikat memandang manusia sebagai kekuatan negatif.
Ternyata pilihan Allah terbukti bahwa tidak semua manusia merusak. Yang dimaksud seperti para Nabi, orang-orang saleh, manusia mampu mengelola bumi, menggali potensi dan memakmurkannya. Namun, di sisi lain tidak sedikit juga manusia melakukan kemaksiatan.
Khilafah: Substantif dan Progresif
Mungkin sudah sering kita mendengar orang berbicara khilafah, penegakan khilafah, dan sebagainya yang bermuara membentuk suatu Negara Islam. Tetapi, mereka tidak tahu makna secara konteks atas khilafah yang selama itu mereka pahami. Memahami kata “khilafah” juga harus memahami substansinya.
Ibnu Manzūr dalam kitab Lisān al-‘Arab, khilafah adalah bentuk infinitive (masdar) dari kata khalafa – yakhlifu – khilāfatan yang bermakna menggantikan, seperti yang sudah disebutkan diatas, sahabat Abu Bakar aṣ-Ṣiddīq yang menggantikan Rasulullah Saw. Dan dari sinilah khilafah membentuk makna sebagai sebuah institusi kepemimpinan.
Dalam perkembangannya, khilafah dipakai kelompok yang memiliki misi agar Indonesia mengalami instabilitas. Ada kemauan mempunyai pemimpin menurut selera kelompoknya. Namun, tawaran khilafah yang digaungkan itu dirasa tidak mencerminkan Islam secara kāffah !.
Muslim Indonesia patut bersyukur kepada Allah, karena mempunyai dasar negara yakni pancasila. Secara progresif, pancasila merepresentasikan khilafah. Mulai dari sila pertama sampai sila kelima, semuanya tidak ada yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Namun, sebagian kelompok kecil masih tidak satu frekuensi.
Ziyad Ulhaq dalam bukunya “30 Tipologi Manusia dan Rahasia Kepribadiannya” mencoba mengeksplorasi struktur dan format mushaf Alquran delapan belas baris. Ia menjelaskan jika ada pemimpin atau golongan yang berkarakter seperti juz kesatu (Q.S. al-Baqarah terdapat dalam juz satu) maka ia cenderung otoriter, bersikap egois, segala keinginannya harus dipenuhi, merasa paling benar dan harus diikuti.
Mari kita coba pahami lebih dalam lagi surah al-Baqarah ayat 30 di atas, ada komunikasi antara Allah dengan para Malaikat tentang penciptaan seorang khalifah. Faktanya, ada kelompok manusia yang taat kepada Allah Swt. dan ada kelompok manusia yang ingin merusak dan mengganggu harmonisasi Islam.
Wallāhu a’lām..
Islam Kaffah Media Pembelajaran Islam Secara Kaffah