Kaidah Fikih Induk Pertama: Niat

0
209

Seperti yang telah diulas dalam artikel sebelumya tentang jenis kaidah fikih bahwa terdapat 5 kaidah yang dikategorikan sebagai kaidah induk (qawaid al-asasiyah al-kubra) yang menaungi kaidah-kaidah lain yang menjadi cabang. Tulisan ini akan mengulas kaidah pertama yang berbunyi:

َاْلأُمُوْرُ بِمَقَاصِدِهَا

“Segala sesuatu tergantung pada tujuannya”

Kaidah ini merujuk pada hadis yang sangat populer, yaitu:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan memperoleh sesuai apa yang ia niatkan”. (HR. Bukhari, No. 1).

Maksud kaidah ini adalah status hukum segala urusan, baik urusan dunia maupun akhirat, bergantung terhadap tujuan yang diniatkan. Pembahasan ilmu fikih berhubungan dengan status hukum, bukan membahas bendanya. Dalam contoh bangkai, fikih akan menoropong status hukum bangkai yang berhubungan dengan perbuatan orang mukallaf misalnya mengkonsumsi, memanfaatkan, dan lain-lain. Oleh sebab itu, kaidah di atas dapat dipahami bahwa status hukum yang terkait dengan perbuatan orang mukallaf itu dilihat dari tujuannya. Tujuan inilah yang menentukan status hukum yang akan melahirkan konsekuensi kepemilikan atau tidak, mendapatkan pahala atau tidak, mendapat balasan siksa atau tidak,  dan seterusnya.

Dalam hal niat ada 7 hal yang perlu diperhatikan dan harus dipahami yang terangkum dalam syair berikut ini:

حَقِيْقَةٌ حُكْمٌ مَحَلٌّ وَزَمَنْ #  كَيْفِيَّةٌ شَرْطٌ وَمَقْصُوْدٌ حَسَنْ

Hakikat, hukum, tempat, waktu, cara, syarat, dan tujuan

Hakikat niat adalah bermaksud melakukan sesuatu bersamaan dengan pekerjaannya, misal niat dalam wudlu’, shalat, dan ibadah lain. Hukum niat adalah wajib, karena niat menentukan tujuan. Tempat niat dalam hati, pengucapan dengan lisan hanya berfungsi untuk membantu apa yang tersirat di hati. Waktu niat bersamaan dengan awal perbuatan. Tata cara niat berbeda-beda sesuai dengan tema babnya. Syarat niat harus tahu terhadap perbuatan yang akan dilakukan, dan tidak ada hal yang menghalangi niat. Maksud niat tergantung pada tujuan pelaku.

Menurut ulama’ fikih persoalan niat ini menyebar dalam 70 bab kajian fikih. Antara lain, dalam bab pertukaran harta, kepemilikan harta, pembebasan tanggungan, perwakilan, penguasaan barang mubah, amanah, tindak pidana, ibadah, nikah, talak, dan lain-lain. Contoh penerapan dalam penguasaan barang mubah. Ketika seseorang meletakkan jaring di lahan miliknya, lalu ada seekor burung yang terperangkap, apakah status burung tersebut menjadi pemilik jaring atau tidak, sangat ditentukan oleh tujuan pemilik saat meletakkan jaring. Jika tujuan dihamparnya jaring untuk menangkap burung, maka otomatis burung yang terperangkap menjadi miliknya. Namun jika tujuan terpasangnya jaring hanya sekedar dijemur atau tujuan-tujuan lain, maka burung tersebut boleh diambil orang lain yang menemukan pertama kali.

Contoh dalam ibadah misalnya mandi besar dan keramas yang bertujuan menyegarkan badan dan membersihkan dari kotoran. Perbuatan mandi tersebut mempunyai konsekuensi hukum yang berbeda berdasarkan tujuannya, niat mandi besar atau sekedar menyegarkan tubuh.

Hikmah kaidah dalam kehidupan sosial. Kita tidak bisa menilai seseorang dari tampilan luarnya, kita hidup di zaman yang penuh dengan kepalsuan. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam menyikapi seseorang, jangan mudah tertipu dan terpesona dengan atirbut-atribut sosial yang mengagumkan. Terkadang tampilan luar tak sebanding dengan tujuan dan nilai yang terkandung di dalamnya. Berlomba-lomba ziarah Tanah Suci juga berbagai motif dan tujuan-tujuan tertentu yang ingin dicapai dengan gelar Pak haji dan Bu hajah.[]

Wallahu ‘alam