kaidah fikih hajat
kaidah fikih hajat

Kaidah Fikih: Mempertahankan Lebih Mudah dari pada Memulai

Sebuah pepatah yang begitu populer menyatakan bahwa mempertahankan lebih sulit daripada mendapatkan atau memulai. Pepatah ini acapkali mendapatkan pembenaran aplikatif dalam dunia bisnis, terutama di bagian marketing ataupun dalam menjalin hubungan bahtera rumah tangga dan hubungan yang serius menuju singgasana pelaminan.

Dalam dunia marketing ketika sebuah produk sudah berhasil menempati alam pikir obyek target pasarnya, tugas selanjutnya bagaimana mereka bisa tetap bertahan menggunakan produknya, tanpa berpindah ke produk lainnya. Di sinilah keunggulan produk itu teruji untuk tetap mepertahankan kualitas terbaiknya.

Begitu pula dalam menjalin hubungan yang mengarah pada tahap serius menuju pelaminan. Terkadang aral dan rintangan serta cobaan selalu datang untuk menggagalkan dan memutuskan hubungan tersebut. Di sinilah seni mengelola hubungan untuk tetap bertahan dibutuhkan. Seringkali mengalami kegagalan dalam mempertahankan hubungan yang sudah lama terjalin. Akan tetapi, pepatah tersebut berlaku terbalik dalam dunia hukum sebagaimana kaidah berikut ini:

اَلْبَقَاءُ أَسْهَلُ مِنَ اْلاِبْتِداَءِ.

(Al-baqa’ ashalu min al-ibtida’)

Artinya: “Mempertahankan lebih mudah dari pada memulai.”

Maksud kaidah ini bahwa memberlakukan hukum yang sudah berlangsung sebelumnya lebih mudah dari pada harus memulai dan memunculkan hukum baru. Mempertahankan hukum merupakan bentuk meneruskan hukum yang sudah ada, sementara memulai merupakan bentuk mengadakan atau memunculkan hukum dari awal (baru).

Kaidah ini menjadi pijakan berpikir bagi kemunculan kaidah yang tak kalah populer juga, yaitu:

يُغْتَفَرُ فِي الْبَقَاءِ مَالاَ يُغْتَفَرُ فِي اْلاِبْتِداَءِ.

(Yughtafar fi al-baqa’ mala yughtafar fi al-ibtida’)

Artinya: “Sesuatu yang dapat ditolerir ketika sudah berlangsung, tidak dapat ditolerir ketika hendak memulai.”

Dua kaidah di atas memiliki contoh aplikatif yang relatif sama, meskipun dalam beberapa contoh furu’iyah terkadang terdapat perbedaan. 

Baca Juga:  Apakah Wabah Mengugurkan Shalat Jum'at? Ini Faktor Udzur Shalat Jumat

Aplikasi kaidah: Seseorang yang memiliki dua rumah di dua sisi kanan dan kiri jalan umum tidak diperkenankan membangun sebuah jembatan layang yang menghubungkan dua rumah tersebut. Tetapi jika jembatan itu sudah ada sejak semula, maka tetap dibiarkan tidak boleh digusur dengan catatan tidak mengganggu ketertiban umum. Sebab mempertahankan jembatan yang sudah ada lebih mudah/dapat ditolerir dari pada baru mau membuat jembatan.

Akad pernikahan yang sejak awal memang meniadakan mahar dihukumi tidak sah. Namun, jika sang isteri merelakan dan menggugurkan mahar setelah terjadinya akad maka diberlakukan dan suami terbebas dari kewajiban membayar mahar.

Tidak diperkenankan mengangkat orang yang fasik memegang jabatan publik, namun seorang hakim yang adil diawal pelantikan tetap dapat dipertahankan meskipun di tengah jalan ia berubah menjadi fasik.

Hikmah kaidah dalam kehidupan: Melanjutkan warisan yang sudah megah tentu lebih mudah dari pada harus merintis dari awal, entah dalam bidang bisnis, lembaga pendidikan, ataupun karir. Inilah sisi yang dibidik oleh kaidah di atas. Sisi positif yang dapat dipotret. Namun, dalam soal merawat warisan itu terkadang tidak sama dengan generasi pendahulunya. Inilah sisi lain yang menjadi obyek garapan pepatah yang menyatakan  mempertahankan lebih sulit dari pada mendapatkan dan memulai. Dunia sosial tak pernah satu warna, ia mempunyai berbagai sisi yang dapat kita potret, tergantung dari posisi mana akan memotret, gambar itulah yang akan kita dapat. []

Wallahu a’lam Bisshawab.

Referensi primer:

Ibrahim Muhammad Mahmud al-Hariri, Ak-Madkhal ila al-Qawaid al-Fiqhiyyah al-Kulliyah, Dar ‘Imar, 1998.

Ahmad bin Syekh Muhammad al-Zarqa’, Syarh al-Qawaid al-Fiqhiyyah, Damasykus: Dar al-Qalam, 1989.

Muhammad Mushthafa al-Zuhaili, Al-Qawaid al-Fiqhiyyah wa Tathbiqatuha fi al-Mazahib al-Arba’, Beirut: Dar al-Fikr, 2009.

Bagikan Artikel ini:

About Zainol Huda

Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo dan Dosen STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep.

Check Also

fatwa

Memahami Fatwa (9): Syarat-syarat Mujtahid

Dalam beberapa artikel sebelumnya telah diulas tentang kriteria seorang mufti. Para ilmuwan Islam berpandangan bahwa …

fatwa

Memahami Fatwa (8): Kepribadian Mufti Menurut Ahmad Bin Hambal

Seorang mufti menjadi corong dan mediator penyampai aturan-aturan syariat terutama yang terkait dengan hukum Islam. …