Investasi Amalan Akhirat

Tiga Bentuk Investasi Akhirat

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah bersabda: “Apabila seseorang telah meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya, kecuali tiga hal; Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang selalu mendoakannya.” (HR. Muslim)

Hadis ini memberikan penegasan tentang pahala yang akan selalu mengalir kepada orang yang telah meninggal dunia. Sebagaimana diketahui, ketika manusia menutup usia, usai juga kesempatan untuk mengerjakan amal baik. Pintu taubat tertutup, hanya menunggu keputusan Allah untuk menimbang amal baik dan amal buruknya. Pilihannya hanya dua; surga atau neraka.

Sebagaimana menjadi keyakinan umat Islam yang tak terbantahkan, setelah meninggal dunia, tempat berikutnya adalah alam kubur. Tempat transit menunggu hari pembalasan. Di sini, ada nikmat dan siksa tergantung perbuatan manusia waktu hidup di dunia.

Baca juga : Dunia Diciptakan sebagai Tempat Berjuang Akhirat Tempat Memetik Hasil 

Amal baik akan dibalas nikmat dan sebaliknya, amal buruk akan mendapat balasan siksa. Penyesalan sudah tampak di ala mini, namun sesal yang tiada guna. Sesal berkepanjangan karena saat di dunia alfa untuk menjalankan perintah Allah. Sampai-sampai mereka berteriak, memohon iba untuk sekejap saja dikembalikan ke dunia dan akan sujud kepada ilahi. Akan tetapi, segalanya telah berakhir. Yang tersisa hanya ratap duka penuh sesal.

Namun bagi umat Islam, selama berada di alam kubur, masih ada harapan untuk menambah amal kebaikan. Meski ia tak mungkin lagi untuk mengerjakannya. Investasi amal baik jangka panjang untuk akhirat. Yang dimaksud adalah; Shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang selalu mendoakannya.

Shadaqah jariyah memilik arti sedekah yang tak terputus. Mayoritas ulama menjelaskan, bahwa yang dimaksud shadaqah jariyah sebagimana dalam hadis yang sangat popular di atas adalah wakaf. Akan tetapi, Abdurrahman bin Abdurrahim al mubarakfuri dalam kitab Tuhfatu al Ahwadzi sebagai syarah sunan al Tirmidzi, mengatakan, bahwa maksud hadis tentang shadaqah jirayah tidak hanya berlaku pada wakaf semata. Namun, berlaku untuk semua aktivitas yang manfaatnya berkelanjutan. Yaitu, menafkahkan harta di jalan Allah. Menyumbang Masjid, berderma untuk pembangunan pesantren, dan sebagainya.

Pendapat senada juga dikemukakan oleh Ibnul ‘Arabi, sebagaimana dikutip dalam kitab al Falihin syarhu Riyadh al Shalihin karya Muhammad Ali bin Muhammad bin ‘Allan bin Ibrahim al Bakri. Ibnul ‘Arabi berkata, “Sebagian dari luasnya sifat kedermawanan Allah, Dia memberikan pahala kepada orang yang telah meninggal sebagaimana pemberian yang diberikan kepadanya ketika masih hidup. Hal tersebut meliputi enam hal; shadaqah jariyah, ilmu yang masih dimanfaatkan oleh orang lain, anak shaleh shalehah yang mendoakannya, menanam pohon untuk penghijauan, menanam benih di kebun, sawah dan ladang, serta menyediakan tempat untuk kaum dhu’afa.”

Baca juga : Berdakwah tak Hanya Soal Ibadah dan Tauhid Tapi Harus Bawa Kebaikan Dunia dan Akhirat 

Dari penjelasan para ulama ini dapat dijabarkan bahwa wilayah shadaqah jariyah cakupannya melebar ke segala bidang selama masih memiliki nilai manfaat untuk generasi berikutnya. Standarnya tentu saja hal-hal yang absah dalam pandangan syariat Islam.

Amal yang pahalanya mengalir kepada orang telah meninggal dunia adalah ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang memberi manfaat kepada diri sendiri dan orang lain untuk mencapai keselamatan dunia dan akhirat. Ilmu yang dimaksud tentu saja ilmu agama. Karena hanya ilmu agama yang bisa menunjukkan manusia untuk beriman kepada Allah, melaksanakan perintah dan menjauhi laranganNya.

Wajar kalau Rasulullah memerintahkan umatnya untuk belajar dan menuntut ilmu. Beliau bersabda, “Mencari ilmu hukumnya wajib bagi semua orang islam.” Akan tetapi, belum tentu seorang yang telah memiliki ilmu agama secara otomatis ilmunya disebut bermanfaat. Karena syarat ilmu manfaat adalah harus diamalkan dalam kehidupan. Berikutnya, menyampaikan ilmu yang telah dimiliki dan telah pula diamalkan tersebut kepada orang lain. Sehingga dengan perantara ilmunya, menyebabkan orang lain memahami, mengamalkan dan menyampaikan kepada orang lain. Begitu seterusnya.

Dan amalan yang pahalanya selalu mengalir kepada mereka yang telah berada di alam kubur adalah anak yang shaleh atau shalehah. Anak yang akan selalu mendoakan orang tuanya yang telah meninggal dunia. Tentunya, investasi ini harus dimulai sedari kecil. Mendidik anak dengan ilmu agama, akhlak mulia dan dibekali ilmu agama.

Dengan demikian, anak akan tumbuh sebagai seorang muslim yang baik. Taat kepada Allah, berbakti kepada dua orang tuanya, bermanfaat bagi manusia dan lingkungan sekitar, bahkan bermanfaat untuk agama, nusa dan bangsa.

Oleh karena itu, selayaknya sebagai orang tua untuk selalu mengarahkan anaknya pada hal-hal yang positif. Membimbingnya dengan tali kasih, membuainya dengan keimanan kepada Allah, cinta Rasulullah dan cinta ilmu agama. Dan tak lupa mendoakan anaknya supaya menjadi anak yang shaleh dan shalehah.

Wallahu A’lam

 

 

Comment

LEAVE A COMMENT