Shalat Idul Adha: Mau di Masjid atau Lapangan?

Selalui ada pertanyaan tentang shalat I’d, baik shalat Idul Fitri maupun Idul Adha, apakah ebih utama dilaksanakan di Masjid atau lapangan? Persoalan ini kerap menjadi perbincangan serius di kalangan umat Islam. Begitu pula di Indonesia. Sebagian ada yang mengerjakan shalat ied di Masjid, sebagian lagi di tanah lapang.

Persoalan Ini sebenarnya hanya masalah khilafiyah, perbedaan cara pandang dalam mengikuti madzhab. Karena itu, tidak layak dijadikan pengabsahan untuk menyalahkan satu dan yang lainnya. Perbedaan seperti inilah yang disebut rahmat.

Tapi alangkah baiknya kita mengetahui seputar perbedaan ini. Bagaimana sesungguhnya fikih hadir untuk membahasnya? Sehingga kalaupun memilih satu diantara dua pendapat tersebut tetap ada pijakannya. Tidak taqlid buta.

Memulai pembahasan ini dengan pendapat Imam Ibnu Ziyad, menurutnya, shalat Ied sunnah dikerjakan di tanah datar atau lapangan. Imam Malik berkata, sunnah mengerjakan shalat dua hari raya di lapangan, bukan di Masjid. Pendapat ini didasarkan pada hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Wahab dari Yunus dari Syihab:

 “Rasulullah Saw keluar menuju tanah lapang untuk menunaikan shlat ied, kemudian hal ini dianggap sunnah oleh penduduk Mesir”.

Ibnu Qudamah al Hambali dalam kitab al Mughni menjelaskan, sunnah mengerjakan shalat ied di tanah lapang. Pendapat ini dikutip dari hadis yang disampaikan oleh sayyidina Ali, Imam al Auza’I. Ibnu Mundzir menganggap hadis tersebut berstatus hasan.

Tetapi Imam Syafi’I memiliki pendapat sendiri tentang shalat ied ini. Menurut Imam yang nama lengkapnya Muhammad bin Idris ini; jika di suatu daerah masjidnya besar, cukup untuk menampung semua jamaah shalat ied, maka lebih utama mengerjakannya di Masjid. Karena masjid adalah tempat terbaik dan kesuciannya terjaga. Inilah alasan kenapa penduduk mekkah mengerjakan shalat ied di masjidil haram.

Pendapat Imam Syafi’I ini bertolak belakang dengan pendapat Ibnu Qudamah. Untuk menguatkan pendapatnya Ibnu Qudamah memberikan alasan, Nabi sendiri mengerjakan shalat ied di lapangan dan meninggalkan masjidnya. Demikian juga khalifah sesudahnya. Tentulah perbuatan Rasulullah ini karena berorientasi kepada yang lebih utama. Dan, tidak ada pendapat yang didasarkan pada Nabi bahwa shalat ied sunnah dikerjakan di Masjid, kecuali kalau ada halangan, seperti hujan.

Baca juga : Mimpi (dan) Kurban

Ibnu Qudamah melanjutkan, ini adalah pendapat mayoritas ulama, karena umat Islam dari masa ke masa selalu mengerjakan shalat ied di lapangan. Baik Masjid di tempat mereka itu luas ataupun sempit. Bagaimana mungkin Nabi Muhammad meninggalkan Masjidnya yang mulia untuk mengerjakan shalat ied di lapangan, kalau memang lebih utama mengerjakannya di Masjid.

Imam Syafi’I dalam kitab al Um menyatakan;  “sebenarnya kami juga memahami bahwa Rasulullah selalu mengerjakan shalat ied di tanah lapang. Demikian pula para shabat yang lain”. Menurutnya, sunnah mengerjakan shalat ied di tanah lapang adalah karena sempitnya masjid, karena untuk shalat ied perempuan juga disunnahkan untuk melakukannya. Beda dengan shalat Jum’at.

Beliau melanjutkan, seandainya di suatu negeri masjidnya besar sehingga bisa menampung semua jama’ah, baik laki-laki maupun permpuan, alangkah baiknya  shalat ied dikerjakan di Masjid. Bukan di lapangan. Tetapi, andaipun mau mengerjakannya di lapangan hal tersebut tidaklah mengapa. Mengerjakannya di lapangan menjadi wajib, kalau masjid di daerah tersebut tidak muat menampung jamaah.

Pendapat Imam Syafi’I ini didasarkan pada ucapan Umar bin Khattab. Saat itu, pada hari raya ied turun hujan, waktu itu Umar bin Khattab mengumpulkan umat Islam untuk melaksanakan shalat ied di Masjid. Dalam khutbahnya beliau berkata: “Sesungguhnya Rasulullah Saw dulu keluar menuju tanah lapang bersama kaum muslimin dan shalat ied bersama mereka, karena waktu itu tanah lapang lebih kondusif dan lebih luas bagi mereka, sedangkan masjid Nabawi tidak cukup untuk menampung mereka, maka di saat turun hujan seperti saat ini masjid lebih kondusif”.  Kisah atau atsar Umar bin Khattab ini dikeluarkan oleh Imam Baihaqi dalam al Sunnah al Kubra. Tetapi derajatnya sangat lemah.

Menurut hemat penulis, dua pendapat di atas bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan. Lebih bijak kalau menempatkan masing-masing pendapat pada kondisi dan situasi yang sesuai. Al Hukmu Yaduuru Ma’a Illatihi Adaman Wa Wujudan, hukum selalu lekat dengan Illat atau alasan hukumnya, bila illatnya hilang maka hukumnya juga berubah.

Pada konteks shalat ied ini, kalau di suatu daerah masjidnya mampu menampung jamaah, apalagi dikhawatirkan akan turun hujan maka lebih baik melaksanakan shalat ied di Masjid. Tetapi, seandainya shalat di lapangan lebih maslahat maka tentu lebih indah dilangsungkan di lapangan.

Wallahu A’lam

Nur Fati Maulida

Sumber: https://islamqa.info/ar/answers/49050, al Islam Sualun wajawabun.

Comment

LEAVE A COMMENT