Syi'ah, Liberal dan Komunis

Bahaya Liberal, Syi’ah dan Komunis

Ada saja cara menyikapi perbedaan secara emosional, sekalipun dalam seagama. Penyebab pertama perbedaan pada mulanya bukan sekedar karena perbedaan pandangan dan pegangan ijtihad dan pemikiran keagamaan. Semata karena perbedaan politik menjadi lumrah untuk membenci, bahkan atas nama agama.

 

Perpecahan politik dalam Islam pada masa lalu memang menjadi preseden. Prahara politik pasca kepemimpinan Nabi khususnya masa transisi Khalifah Ustman ke Khalifah Ali banyak dijadikan titik tolak cara membedakan diri. Perbedaan penggunaan ayat, hadist, pemikiran keagamaan datang kemudian sebagai legitimasi.

 

Pekerjaan berat para ahli hadist bukan main. Selain harus berjuang untuk membersihkan hadist dari cerita-cerita israiliyat, mereka juga harus memastikan kemurnian hadist dari matan bermuatan politik. Rasa ta’dhim cukup besar patut kita berikan kepada ulama-ulama salaf yang berhasil mendokumentasikan, mentakhrij dan mensistimatisasi secara tematik hadist-hadist Nabi.


Baca Juga : Mengenal Syiah Salafi


Saat ini Indonesia berada dalam satu nuansa yang kadang seseorang begitu mudah melabeli sesuatu karena berbeda dan tidak bersepakat. Secara tak terduga dan tidak teratur peluru labelisasi bertebaran untuk menghantam mereka yang dianggap berpikiran berbeda. Jika mereka ingin memulai untuk mempromosikan Islam yang penuh perdamaian, anti kekerasan dan meluruskan kekeliruan orang yang berpaham keras, muncullah narasi liberal, syi’ah dan komunis.

 

Entah deretan label ini mereka dapatkan dari mana, tetapi memang narasi tersebut dijadikan label pembenaran yang tidak perlu dikaji kebenarannya. Artinya ketika seseorang berbicara tentang toleransi, moderat, anti pemaknaan jihad dengan kekerasan, dan sebagainya muncullah narasi itu. Pun ketika ulama berbicara bahaya organisasi pengusung khilafah yang ditolak di Timur Tengah, labelisasi muncul sebagai komunis. Sekalipun fakta diketengahkan bahwa organisasi pengusung Khilafah juga ditolak di Timur Tengah, tetapi di Indonesia yang menolak adalah komunis, sementara negara Timur Tengah masih islami?

 

Ketika mereka ditanyakan apa itu liberal? Apa itu syiah dan berapa macam golongan dalam Syiah? Apa itu komunis dan kenapa harus dipaksakan disambung dengan komunis liberal? Pertanyaan itu mungkin tidak bisa dijelaskan, tetapi bahwa yang berbeda dan menggangu cara mereka berpikir adalah musuh. Dan musuh itu bernama liberal, syi’ah dan komunis.  

 

Membiasakan Benci

 

Sejatinya, menarasikan berbeda dengan sebutan label liberal, syiah dan komunis adalah cara berpikir yang direproduksi secara berulang-ulang untuk membiasakan membenci. Tidak perlu didefinisi lengkap tentang label itu tetapi yang penting bahwa label itu adalah cara untuk membenci yang berbeda. Kebohongan pun ketika diulang-ulang akan menjadi seolah kebenaran.


Baca juga :  Virus Kebencian Masih di mana-mana Hj Shinta Nuriyah Pererat Persatuan Persaudaraan Kebhinekaan


Siapa sangka ulama sekelas Prof. Dr. KH Quraish Shihab, misalnya, harus mendapatkan labelisasi Syi’ah. Namun, tidak heran. Sekelas ulama salaf seperti Imam Syafi’i ternyata juga pernah dituduh Syi’ah. Imam Syaf’I’i memang dengan sangat obyektif dengan berbagai alasan sangat mengagumi Sayyidina Ali. Bagi Imam Syafi’i Sayyidina Ali merupaka khalifah yang cerdas, karakter kuat dengan pemikiran yang luas dalam bidang keagamaan.

 

Komunis misalnya bisa banyak dilihat narasi yang dikembangkan kepada mereka yang menolak ide khilafah di Indonesia. Ketika ulama atau intelektual Islam memberikan alasan agumentatif dari aspek historis, subtansi dan dalil-dalil keagamaan terkait tidak relevannya khilafah di Indonesia, balasannya bukan argumentasi tetapi celetukan: komunis atau komunisme lebih berbahaya. Entah apa maksudnya membela khilafah dengan menuduh yang lain komunis.

 

Pada umumnya kita sedang dicetak dalam proses penumpukan kebencian terhadap mereka yang berbeda. Proses ini telah berlangsung lama dengan cara memilah yang berbeda dari aspek keagamaan, pemikiran keagamaan dan cara pandang (madzhab) dalam beragama. Saat ini yang dipetik adalah proses keberanian untuk menuduh dan melabeli mereka yang berbeda.

 

Dari proses penanaman kebencian terhadap perbedaan, keberanian untuk melabeli mereka yang berbeda  dan pada akhirnya terminal terakhir adalah sikap dan tindakan terhadap perbedaan. Penamanan labelisasi liberal, syi’ah dan komunis merupakan rangkaian doktrin yang akan terus ditanamkan tanpa penjelasan yang lengkap tentang apa sebenarnya definisi dan makna yang dikandungnya. 

 

Karena itulah, saudara ku seiman dan setanah air, jika anda berbeda dalam konteks pemikiran dan mendapatkan labelisasi liberal, syi’ah atau komunis tidak perlu kaget. Hal yang perlu dikedepankan adalah mengajak dialog dengan baik dan berikan klarifikasi secara akademis dan pemikiran keagamaan. Kebiasaannya labelisasi itu hanya berhenti di definisi.

 

Berdebatlah dengan baik dan berikanlah nasehat dengan santun. Itulah cara Islam mengajarkan umatnya dalam memecahkan masalah. Dan umumnya, mereka yang suka melabelisasi itu adalah gampang termakan emosi dengan bahasa yang mudah kasar. Hadapilah dengan santun karena bisa jadi mereka belum mengerti hakikat Islam yang penuh dengan rahmat.


Baca juga : 9 Etika Berdebat Dalam Islam

 

Ajaklah mereka yang selalu berkata kasar ketika seolah membela Islam kepada pandangan yang luas. Ada ribuan bahkan jutaan karya ulama salaf yang telah membangun peradaban ilmu Islam. Bisa jadi mereka yang seperti itu hanya membaca satu buku atau hanya kagum dengan satu guru.

 

Semoga kita tetap terjaga dalam kerukunan dan mampu merawat ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah watoniyah. Amin

 

Wallahu a’lam 

Comment

LEAVE A COMMENT