Ramadan: Bulan Jihad Meraih Kemenangan, Bukan Bulan Makar Mencari Keributan

Ramadan: Bulan Jihad Meraih Kemenangan, Bukan Bulan Makar Mencari Keributan

Beberapa hari terakhir ini, istilah makar mencuat kembali. Ada anggapan tentang sekelompok orang dan massa yang ingin melakukan pembangkangan. Makar sangat identik dengan upaya menggulingkan pemerintah yang sah dengan cara inkonstisuional semisal pengerahan massa atau pasukan bersenjata.

Menurut saya, hal yang tidak bisa menyenangkan karena isu ini menjadi popular di saat umat Islam sedang melaksanakan ibadah puasa yang membutuhkan ketenangan dan kenyamanan. Isu makar, gerakan ketidakpercayaan terhadap pemerintah, deligitimasi institusi negara, dan ajakan pengerahan massa merupakan kondisi yang membuat ruang public menjadi bising dan ribut.

Entah kenapa ada pula yang mengatakan dengan bangga bahwa Ramadan adalah bulan jihad sehingga tepat dijadikan momentum memerangi pemerintah yang zalim, tidak adil dan curang. Narasi ini pun tidak bisa dientengkan karena pasca Pilpres ini kristalisasi kebencian dan kekesalan butuh luapan sosial. Narasi Ramadan bulan jihad untuk memerangi pemerintah yang curang dan zalim menemui momentumnya.

Pertama harus kita luruskan tentang makna Ramadan sebegai bulan jihad. Jangan-jangan masyarakat bukan jihad meraih kemenangan, tetapi justru masuk dalam gerakan makar mencari keributan. Apa yang mereka perjuangkan tentang jihad melawan kecurangan dan kezaliman toh tidak lahir dari gerakan rakyat. Gerakan ini sebenarnya lahir dari gerakan elite politik yang tidak puas dengan hasil kontestasi.

Baca juga : Meraih Magfirah Pada 10 Hari Awal Ramadhan

Saya menjadi khawatir gerakan yang disebut jihad di bulan Ramadan untuk melawan kezaliman pemerintah dan kecurangan adalah kekesalan elite yang ingin ditularkan kepada publik. Kata-kata people power yang dengan bijak tidak digunakan pada tempatnya justru menyulut emosi massa dan memberikan Pendidikan politik yang tidak baik. Pada akhirnya bukan jihad yang didapatkan justru makar di bulan rahmat.

Islam Membenci Makar

Makar dalam term Islam disebut dengan bughat sebagai bentuk jamak dari baghyun yang berarti kerusakan atau tindakan yang melampaui batas. Secara umum menurut para fuqaha makar merupakan perbuatan yang membelot dari ketaatan kepadan pemimpin yang sah. Pembangkangan dilakukan karena adanya pandangan bahwa pemimpin telah melakukan tindakan zalim, kufur, kemaksiatan dan wajib diperangi.

Dalam pemikiran ulama klasik (salaf) pembagian bughat ada tingkatannya. Bisa sekedar pemikiran, aksi di jalanan, memiliki kekuatan militer atau pada tingkatan seperti khawarij. Namun secara umum makar atau bughat adalah pembangkangan, ketidakpercayaan dan berbagai upaya yang ingin melakukan delegitimasi pemerintahan yang sah.

Lalu, apakah pemimpin tidak boleh diturunkan secara paksa? Apa pemimpin zalim tidak bisa diberikan masukan? Ingat memberikan aspirasi dan menurunkan aksi dengan anarki dua hal berbeda. Menentang dan mengkritik kebijakan imam yang sah bukan bughot, tetapi menolak taat dan memenuhi kewajiban dalam konteks bernegara adalah bughat.

Dari kalangan Syafi’iyah, yakni Imam Zakariya al-Anshari mendefinisikan pemberontak sebagai sekelompok orang yang menentang imam dengan pandangan yang batil sebagai bentuk pra sangka dan keraguan. Mereka yang melakukan gerakan, menghasut dan memprovokasi masyarakat menurut hukum Islam wajib diperangi. Kelompok ini akan menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat.

Dalam Islam persoalan ketaatan terhadap pemimpin menjadi salah satu hal penting. Urusan keumatan harus diurus oleh pemimpin sehingga kedudukan pemimpin sangat dibutuhkan. Bahkan lebih baik mempunyai pemimpin yang zalim daripada masyarakat kacau tanpa pemimpin.  Nabi bersabda: barangsiapa yang tidak mau taat (kepada imam/pemimpin) dan memisahkan diri dari jamaah kemudia dia maya, maka dia mati dalam keadaan mati jahiliyah. (HR Muslim).

Menaati pada pemimpin mutlak dilaukan walaupun ia zalim. Artinya, Tidak boleh membangkang dari pemimpin kecuali telah Nampak kekufuran yang nyata. Nyata dalam pengertian ini bukan hanya sekedar sangakaan dan multi interpretasi.

Meskipun pemerintah zalim pembangkangan dan pemberontakan dalam Islam sangat tidak diperbolehkan. Cara-cara damai konstisuional, demokratis adalah cara sah untuk dilakukan. Inilah yang dikatakan Nabi : Sesungguhnya jihad yang paling utama adalah berkata yang benar di hadapan pemimpin zalim. Tetapi membangkang dan memerangi pemimpin sekalipun zalim itu sangat tegas dilarang oleh Nabi.

Pembangkan atau makar bukan jihad. Meneriakkan jihad di bulan suci dengan gerakan yang justru lebih mendekati makar sungguh menyesatkan. Bulan suci adalah jihad meraih kemenangan, bukan bulan makar mencari keributan dan kekacauan. 

Comment

LEAVE A COMMENT