Islam Itu Agama Damai, Umat Muslim Sejatinya Duta Perdamaian

Batang – Islam itu agama damai, sehingga setiap muslim sejatinya adalah duta perdamaian. Demikian pesan perdamaian dunia yang bergema dari seminar internasional “Indonesia’s Contribution to World Peace: Roles, Opportunities, and Challenges” di Pondok Modern Tazakka, Batang, Jawa Tengah, Senin (15/10/2018).

Seminar diikuti oleh segenap pengurus Yayasan Tazakka, para guru, para santri Tazakka mewakili 24 provinsi di Tanah Air, dan 41 santri dan santriwati asal Afghanistan. Bertujuan menggaungkan kembali pesan-pesan perdamaian atau Peace Messages kepada dunia. Mantan Menteri Luar Negeri DR. H. Hasan Wirajuda, SH, MALD, LLM, dan mantan Wakil Menteri Luar Negeri DR. Triyono Wibowo, SH, hadir menjadi pembicara seminar tersebut.

Pimpinan Pondok Modern Tazakka, KH. Anang Rikza Masyhadi, MA mengatakan seminar ini merupakan momentum sangat mahal dan bersejarah. Apalagi dua narasumber yang hadir memiliki rekam jejak yang baik dalam konteks membawa Indonesia secara aktif berperan dan berkontribusi bagi perdamaian dunia, saat masih menjadi Menlu dan Wamenlu. KH. Anang Rikza sendiri adalah mantan Dubes RI di Mesir pada 1998.

Dalam paparannya, Hassan Wirajuda menjelaskan lima hal yang membuat Indonesia mampu berperan aktif dalam perdamaian dunia.Pertama, Indonesia memiliki pondasi kehidupan nation-state yang damai. Para pendiri bangsa memakai pendekatan ‘Jalan Tengah’ atau konsensus ‘Jalan Tengah’ (Wasathiyah) dalam pendirian bangsa, yang berwujud dalam Pancasila.

“Pancasila adalah konsensus antara kelompok nasionalis dan kelompok religius saat merumuskan ideologi bangsa ini," katanya dikutip dari republika.co.id.

Kedua, Indonesia memiliki konstitusi yang berisi amanat untuk memajukan perdamaian dunia. UUD ‘45 mengamanatkan bangsa Indonesia untuk ikut serta memelihara ketertiban dunia. Menurutnya, Indonesia bukan bangsa egois. Ketika merdeka, Indonesia membantu bangsa-bangsa terjajah untuk merdeka dan menginisiasi Konferensi Asia Afrika di Bandung pada 1955 dan seterusnya.

Ketiga, Indonesia cukup kredibel dalam memajukan perdamaian dalam negerinya sendiri. Antara 1999-2005, konflik Aceh diakhiri dengan damai.

"Dunia melihat bagaimana kita sebagai bangsa dapat mengelola keragaman dengan baik. Ada lebih dari 300 suku, adat istiadat dan bahasa, disamping lebih dari 17 ribu pulau, karena kita sepakat dengan slogan Bhinneka Tunggal Ika. Ini menjadi modal kita untuk ikut menciptakan perdamaian dunia," jelas kakak kandung Gubernur Banten Wahidin Halim ini.

Keempat, lanjut Hassan, Indonesia aktif dalam proses menciptakan dan memelihara perdamaian dunia, khususnya di negara negara berkonflik seperti Filipina, Thailand Selatan, Kamboja, Palestina, Kongo, Vietnam, Afghanistan dan lain-lain. Bahkan sejak 1957 di Sinai, dan 1960 di Kongo, sampai sekarang di berbagai belahan dunia, Indonesia kontributor pasukan perdamaian kesembilan.

Kelima, sejak 1967 hingga saat ini Indonesia terlibat aktif dalam penciptaan tatanan dunia (world order) dan tatanan kawasan (regional order), seperti pada Perang Suriah, Yaman, dan Crimea.

Ia menegaskan, Indonesia dapat terus berkiprah memajukan perdamaian dunia bila memiliki sustainability atau keberlangsungan yang tinggi.

"Keberlangsungan NKRI sangat bergantung pada ketahanan nasional baik ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan militer. Dan waspada terhadap upaya menggeser atau menukar pondasi fundamental konsensus NKRI," tegasnya.

Pada sesi selanjutnya, Triyono Wibowo membawakan topik tentang “Poverty, Human Security, and Non-Traditional Threat to Peace”. Mantan Wamenlu RI ini menjelaskan bahwa perdamaian dunia bukan saja bisa terancam karena adanya agresi militer dari pihak eksternal, tetapi juga karena adanya masalah kemiskinan dan lemahnya tingkat keamanan di dalam suatu negara

Comment

LEAVE A COMMENT