Teladani Sifat Nabi Muhammad SAW Dalam Berpolitik

Surabaya – Indonesia tengah menjalani tahun politik dengan akan digelarnya Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 nanti. Saat ini, masa kampanye Pilpres dan Pileg telah berlangsung dimana dinamika yang terjadi sungguh sangat mengkhawatirkan. 

Hampir tiap hari terjadi ‘perang’ pernyataan, berita bohong (hoax), dan ujaran kebencian, baik di media konvensional maupun di medsos. Alhasil, suasana kurang kondusif ini memunculkan kekhawatirkan terjadinya di perpecahan di masyarakat Indonesia karena pilihan yang berbeda.

Kondisi ini sangat disadari adik kandung mantan presiden RI, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, KH. Solahudin Wahid. Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, ini mengimbau para politisi belajar dan meneladani Nabi Muhammad SAW dalam berpolitik. Apalagi saat ini masih dalam suasana Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 H. 

Menurut Gus Sholah, panggilan karibnya, banyak sifat-sifat nabi yang bisa diteladani dalam berpolitik. Salah satunya komunikasi politik, dimana Nabi Muhammad SAW tidak pernah berkomunikasi dengan cara yang tidak baik. Bahkan nabi tidak pernah berkata tidak baik dan tidak menebar kebencian serta permusuhan.

"Dalam Alquran Surat Ali Imron 159 disebutkan bahwa Nabi selalu menyampaikan pesan dengan lemah lembut, tidak memaksa dan tidak menyerang orang dalam perkataannya," kata Gus Sholah.

Gus Sholah mengatakan, dalam ajarannya, Nabi Muhammad adalah seorang yang jujur dan dapat dipercaya. Jujur menurutnya adalah menyampaikan fakta apa adanya dan tidak menutupi fakta untuk kepentingan tertentu, apalagi sengaja menyebar berita hoax. 

"Saya rasa masih banyak sifat Nabi yang perlu diteladani bagi para politisi di negeri ini. Jika cukup melakukan 3 sifat saja yakni jujur, dapat dipercaya dan berkata baik, itu sudah bagus jika benar diterapkan," ungkap Gus Sholah.

Bahkan sifat-sifat nabi berlaku tidak hanya dalam konteks berpolitik, namun juga relevan diterapkan dalam kehidupan manusia baik bagi seorang pemimpin, seorang bapak, dan sebagai manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Comment

LEAVE A COMMENT