Jumatan di Masjid Roma, Menag: Bukti Islam Agama Damai

Roma – Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin berkesempatan melaksanakan salat Jumat di Masjid Roma yang besar dan megah serta menjadi simbol dan bukti bahwa agama Islam itu adalah agama damai. Bagaimana tidak, masjid ini berdiri di tengah-tengah mayoritas umat Katolik Roma, namun umat Muslim yang sebagian besar pendatang dari Maroko, Albania, Senegal, Mesir, Tunisia, Aljazair, Indonesia, dan Italia, bisa melaksanakan ibadah dengan aman dan damai.

"Alhamdulillah, saya bisa Salat Jumat di Masjid Roma yang megah ini bersama saudara-saudara muslim lain dari berbagai negara,” ujar Menag, Jumat (4/10/2019) dikutip dari laman resmi Kemenag RI.

Khatib dan imam pada salat Jumat adalah Syeikh Salah Ramadhan Elsayed, lulusan Al Azhar Kairo Usai Salat Jumat, bersama sang Imam, Menag berkeliling meninjau bangunan Masjid Roma. Ikut mendampingi, Adnan Irodat, staf KBRI Roma. Menag menyapa umat muslim yang juga hadir. Mereka datang dari berbagai negara, selain warganegara Italia.

Baca Juga: Sidak ke Masjid Toleransi, Menag: Ini Sesungguhnya Pengamalan Ajaran Islam yang Menebarkan Damai

Masjid Roma adalah masjid terbesar di Eropa. Masjid ini dapat menampung sekitar 12ribu umat. Letaknya di kaki Monte Parioli (Bukit Parioli) di kawasan Acqua Acetosa yang sekaligus berfungsi sebagai Pusat Kebudayaan Islam Italia.

Sejarah mencatat, berdirinya masjid ini membutuhkan waktu yang panjang. Saat berkuasa pada periode 1922-1943, Benito Mussolini pernah berkata. “Tak kan ada Masjid di Roma, selama tak ada Gereja di Mekkah”. Kurang lebih 50 tahun setelah kematian Mussolini, akhirnya umat Islam di kota Roma memiliki sebuah masjid yang megah, lengkap dengan menaranya.

Masjid ini diresmikan penggunaannya pada 21 Juni 1995. Adapun perencanaan pembangunannya dilakukan sejak 1974, ketika lahan diperoleh dari Dewan Kota Roma. Saat itu, Raja Faisal dari Arab Saudi ikut melakukan komunikasi dengan Presiden Italia Giovanni Leone (1971-1978).

Pembangun masjid dimulai tahun 1975 sebagaimana tertulis di prasasti marmer yang terpasang di dekat tangga utama masjid. Masjid ini diarsiteki oleh Paolo Portoghesi, Vittorio Gigliotti, Sami Mousawi, dan Nino Tozzo, dengan gaya perpaduan Romawi dan Islam.

Memasuki ruang utama masjid, jamaah akan melewati selasar sepanjang 15 meter dari tangga yang menghubungkan bagian luar dan dalam. Melalui tangga dengan tinggi kurang lebih 2,5m, akan dirasakan detail kemegahan bangunan-bangunan Romawi kuno dengan 16 kubah dan kubah besar di tengah. Bagian atas kubah besar itu dihiasi dengan bulan sabit. Tinggi menara masjid ini sekitar 40 meter yang berbentuk pohon palem.

"Umat Muslim di Italia sebagian besar berasal dari Maroko, Albania, Senegal, Mesir, Tunisia, Aljazair, Indonesia, dan Italia sendiri. Sebagian besar Imam Masjid berasal dari Al-Azhar Mesir," tutur Menag.

Baca Juga: Menag dan Ulama al-Azhar Bahas Cara Sikapi Ekstremisme, Intoleransi, dan Radikalisme

Menag berada di Roma untuk menghadiri menghadiri pelantikan Monsiyur (Mgr) Ignatius Suharyo menjadi Kardinal, di Basilika Santo Petrus, Vatikan. Menag menyampaikan bahwa penobatan ini menjadi sebuah kehormatan tersendiri bagi bangsa Indonesia.

"Bapak Paus telah memberikan kepercayaan sekaligus kehormatan bagi salah satu putra terbaik Indonesia sebagai kardinal," imbuhnya.

Ia berharap, dilantiknya Ignatius Kardinal Suharyo akan berdampak positif bagi kehidupan beragama di Indonesia. "Kita mengenal Bapak Kardinal Suharyo sebagai tokoh yang senantiasa memperjuangkan terwujudnya perdamaian dan terbangunnya kerukunan umat beragama," ujar Menag.

Comment

LEAVE A COMMENT